Archive Pages Design$type=blogging

Literasi, Empati, Masa Depan

Peningkatan daya literasi di masyarakat berefek pada perkembangan negara. Mulai dari wilayah sosial, ekonomi, politik, dan hukum akan membaik ketika daya literasi masyarakat juga meningkat.

Membaca buku, melihat dunia, menjadi kritis (Mia/BP2M)

Peringkat literasi Indonesia di dunia memprihatinkan. Menurut data World’s Most Literate Nations, yang disusun oleh Central Conecticut State University ini, peringkat literasi kita berada di posisi kedua terbawah dari 61 negara yang diteliti. Indonesia hanya lebih baik dari Bostwana, negara di kawasan selatan Afrika. Berjarak tujuh tingkat dari negara tetangga kita, Malaysia yang duduk di posisi 53. Sedang negara yang paling literasinya adalah Finlandia. (Tempo, 16 April 2016)

Pemeringkatan yang diumumkan Maret lalu, adalah studi deskriptif dengan menguji sejumlah aspek, termasuk variabel yang dikelompokkan dalam lima kategori, yaitu perpustakaan, koran, input dan output sistem pendidikan, serta ketersediaan komputer. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan daya literasi masyarakat. Salah satunya melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang mencanangkan program membaca selama 15 menit sebelum pelajaran di sekolah dimulai. Program tersebut mencoba mendorong dan membiasakan peserta didik mengakrabi buku. Namun yang jelas, program tersebut tidak serta merta langsung menghadirkan dampak yang signifikan. Butuh waktu bertahun-tahun dan diprakarsai oleh banyak pihak untuk mencipta budaya literasi di masyarakat.

Peningkatan daya literasi di masyarakat berefek pada perkembangan negara. Mulai dari wilayah sosial, ekonomi, politik, dan hukum akan membaik ketika daya literasi masyarakat juga meningkat. Persaingan di kancah internasional pun sangat mungkin dimenangkan. Harmonisasi antar masyarakat, sistem birokrasi yang bersih, dan kemandirian bangsa sangat niscaya bisa diraih.

Daniel Lerner, melalui karyanya The Passing of Traditional Society: Modernizing The Middle East (1978), berasumsi bahwa perbedaan antara masyarakat tradisional, masyarakat transisional, dan masyarakat modern ditandai dengan akses kepada tulisan. Semakin masyarakat akrab dengan buku, semakin modern mereka. Lebih lanjut, Lerner menjelaskan, kemampuan empati masyarakat modern lebih luas ketimbang masyarakat tradisional. Kemampuan empati di sini adalah sejauh mana orang dapat menempatkan dirinya dalam situasi orang lain.

Kita sangat akrab dengan adagium: buku adalah jendela dunia. Di dalam setiap buku terkandung pengetahuan sekaligus menawarkan cara pandang. Banyaknya buku yang dibaca akan menambah pula pengetahuan dan memperluas cara pandangnya. Pengetahuan dan cara pandang yang luas memudahkan seseorang menyesuaikan diri dengan situasi, baik saat menghadapi lingkungan atau pun orang lain. Bagi orang-orang seperti itu, realitas dihadapi sebagaimana adanya, kemudian dimaknai dengan perspektif yang kaya. Realitas dibiarkan hadir sebagai “faktisitas”, manusianya yang mesti menyituasikan dirinya. Untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin kompetitif dan modern, orang butuh buku sebagai payung pelindung.

Daya literasi

Kita seringkali mendengar kata literasi. Namun benarkah kita sudah paham maknanya? Literasi sekadar diterjemahkan sebagai kemampuan membaca dan menulis. Singkat kata, literasi diartikan sebatas melek huruf. Kamus Besar Bahasa Indonesia (2014) pun belum menyertakan lema literasi. Alhasil, sekadar melek huruf, bisa membaca dan menulis dirasa cukup bagi manusia Indonesia untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin kompetitifnya persaingan.

Freebody & Luke (1990) menawarkan konsep literasi yang lebih luas dari sekadar pengertian di atas. Literasi, sebagaimana dijelaskan Freebody & Luke, adalah proses memahami, melibati, menggunakan, menganalisis, dan mentransformasikan teks. Tidak berhenti pada bisa atau tidaknya seseorang membaca dan menulis. Melek huruf yang ditandai dengan kebisaan seseorang membaca dan menulis tidak selalu berhubungan dengan luasnya wawasan dan pengetahuan seseorang.

Ignas Kleden menguraikan tiga jenis melek huruf. Pertama, orang-orang yang sempat mendapat pengajaran ihwal baca tulis, namun karena keterbatasan buku bacaan atau karena hal lainnya, mereka jarang mengamalkan kemampuan baca-tulisnya. Kedua, orang yang secara teknis dan fungsional bisa baca tulis. Mereka mengamalkan kemampuannya, namun pada taraf dan kepentingan tertentu saja, belum sampai membudaya. Dan jenis yang ketiga, orang yang secara teknis dan fungsional melek-huruf, serta menjadikan baca tulis sebagai kerja budaya.

Jenis ketiga yang diuraikan oleh Ignas Kleden itulah yang diharapkan terbentuk. Bagi mereka, baca tulis bukan sekadar aktivitas sampingan, yang dikerjakan jika memang ada tuntutan. Tetapi, baca tulis telah menjadi budaya, lengkap disertai dengan proses memahami, melibati, menggunakan, menganalisis, dan mentransformasikan teks. Oleh sebab itu, akses mereka pada perpustakaan, koran, dan pelajaran di lembaga pendidikan sangat luas. Efeknya, orang-orang yang memiliki daya literasi tinggi memiliki kecenderungan bersikap luwes, kaya pengetahuan, dan memiliki rasa empati tinggi pada sesuatu di luar dirinya.


Finlandia, Jepang, Korea adalah sederet negara-negara yang berhasil menjadi pemenang bahkan menjadi penguasa berkat budaya berliterasi dan mengakrabi buku. Budaya literasi di negara-negara tersebut sangat tinggi, angka minat baca pun tidak main-main. Dorongan dan pembiasaan dilakukan oleh berbagai lapisan, baik keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah. Hal tersebut membangun kultur literasi yang luas, mendalam, dan masif di masyarakat. [Mia]

COMMENTS

Name

Advertorial Berita buku Cerpen dee lestari Desa Diskusi Editorial event Express Feature film gaya Gazebo HAM Headline Indepth new info infografis Inspirasi Jepret Kampus Komunitas Laporan Utama Musik Nuansa Opini PDF EXPRESS PDF NuansA Pers Liris pgsd pgsd tegal Pilrek pjd polling Populer Profil Puisi reggae Resensi Riset Sastra Sekaran Semarangan Seni Sinema slide Student Journalism supernova Teater Tesa Tradisional Travelista Unnes Wacana Wanita Wawancara
false
ltr
item
BP2M: Literasi, Empati, Masa Depan
Literasi, Empati, Masa Depan
Peningkatan daya literasi di masyarakat berefek pada perkembangan negara. Mulai dari wilayah sosial, ekonomi, politik, dan hukum akan membaik ketika daya literasi masyarakat juga meningkat.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhFoAeoCHp_cnIM6WEXmer_SYQokWg31L3-BPJ4MEAIxQO_tDZFeFR9K8m2kNHdY4e5aL0pbkYmup202IytIt1m6R9cMxnDI-VkLx190GEKsacQAnUzeH5GlyAmWNNqvzUYbivdb9vR3874/s400/membaca+buku.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhFoAeoCHp_cnIM6WEXmer_SYQokWg31L3-BPJ4MEAIxQO_tDZFeFR9K8m2kNHdY4e5aL0pbkYmup202IytIt1m6R9cMxnDI-VkLx190GEKsacQAnUzeH5GlyAmWNNqvzUYbivdb9vR3874/s72-c/membaca+buku.jpg
BP2M
https://bp2m-unnes.blogspot.com/2016/06/manfaat-membaca-buku.html
https://bp2m-unnes.blogspot.com/
http://bp2m-unnes.blogspot.com/
http://bp2m-unnes.blogspot.com/2016/06/manfaat-membaca-buku.html
true
2737708637901590966
UTF-8
Maaf Tulisan tidak di temukan, silahkan kembali ke halaman utama Lihat Semua Baca Selengkapnya Balas Cancel Balasan Hapus Oleh Beranda PAGES POSTS Perlihatkan Semua RECOMMENDED FOR YOU MENU ARSIP PENCARIAN Kata Kunci yang kamu cari tidak ditemukan. silahkan kembali ke halaman utama Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sept Okt Nov Des Sekarang 1 menit lalu $$1$$ Menit yang lalu 1 hour ago $$1$$ Jam yang lalu Yesterday $$1$$ Hari lalu $$1$$ Minggu lalu Lebih dari satu Minggu