Archive Pages Design$type=blogging

Obrolan Jalanan Mampir ke Audit Unnes

Oleh Kirana Pramesvari dan L Sirine berbunyi. Meraung. Membangunkan Mae yang tengah tertidur di samping Tugu Jogja. Tak seperti suara...

Oleh Kirana Pramesvari dan L

Sirine berbunyi. Meraung. Membangunkan Mae yang tengah tertidur di samping Tugu Jogja. Tak seperti suara adzan yang memilukan, suara sirine itu membuat Mae cemas. Seperti ada malaikat maut yang akan mencabut nyawanya. Mae mondar-mandir kebingungan. Takut bayi yang ada di gendongannya terbangun, dia pun menina-bobokan bayi itu.

Asumsi umum membangun paradigmanya sendiri bahwa sosok yang telah tua adalah simbol orang bijak. Mae salah satu tokoh dalam pementasan naskah berjudul Mega-mega karya Arifin C. Noer -yang dibawakan oleh Teater 28 di pelataran Auditorium Unnes, Sabtu (31/5)- adalah satu yang bijak dari beberapa tokoh pada pementasan tersebut.

Pembacaan puisi oleh salah satu alumni Teater 28 menjadi 
pembuka pentas keliling yang dilaksanakan  di Auditorium Unnes. Foto: L
Teater 28 dari Universitas Negeri Siliwangi Jawa Barat -bekerjasama dengan Teater SS-, selaku yang punya hajat mencoba membawa kehidupan jalanan ke kampus-kampus. Pementasan bertajuk pentas keliling itu akan diboyong ke setiap kampus yang menjadi tujuan. Unnes salah satu tujuan perhelatan itu.

Mae selaku “yang bijak” dalam pementasan tersebut seringkali membawa dirinya masuk ke dalam masalah setiap orang di sekitarnya. Retno, dalam sebuah adegan, sedang menggerutu. Meratapi suaminya yang tak bertanggungjawab hingga menjerumuskannya menjadi seorang pelacur.

Pada sebuah momen Retno yang sudah punya anak malah menyiakan. Seolah enggan mengurus anak bersama suami, dan menyebabkan anaknya mati. Hal itu jadi catatan bagi Mae bahwa Retno tak cukup becus menjaga setiap titipan yang diberi.

Mae yang memang mandul, merasa itu adalah kesiaan. “Saya ini mandul. Ingin punya anak tak diberi dan hanya dirundung sepi,” ungkap Mae di sebuah dialog. Retno tersindir. Merasa tak berguna. “Jangan seperti itu Mae, kami di sini sudah merasa seperti anak Mae. Panut, Retno, Koyal, Hamung, Tukijan adalah anak Mae,” ungkap Retno.

Suasana haru itu dipecah oleh Koyal, pemulung yang hampir menang lotre dan mendamba memiliki banyak uang. Segala kehebohan dibawakan apik oleh Jimat anggota Teater 28, pemeran Koyal. Dia berteriak melebihi orang yang impiannya terwujud. Padahal dalam kasus ini kecocokan angka lotre belum terwujud. Artinya dia belum sepenuhnya menang.

Mungkin itulah gambaran masyarakat miskin di sekitar kita. Ada kekuatan besar di mana mendamba kaya itu jadi utama. Masih ingat lagu yang dibawakan Tegar? Pengamen cilik yang mendamba kaya raya. Kaya dalam hal ini memiliki uang berlimpah adalah imaji tertanam yang enggan tiada, melekat, menjadi identitas. “Apa yang tak bisa dibeli dengan uang?” sebuah anekdot dikatakan Koyal. Jika Koyal menang lotre, apa pun pasti terbeli.

Karena memang Koyal hanya kurang beruntung, di mana tinggal satu angka dia bisa memenangkan Lotre, dia mencoba lagi memasang taruhan. Harapannya besar. Bahkan dia mengaku yakin bisa memenangkannya. Impian kaya raya tanpa bekerja seperti sesuatu yang lumrah. Asumsi itu muncul karena hedonisme yang coba dibangun media melalui kuis-kuis di beberapa stasiun televisi.

Tak tanggung-tanggung televisi membawa imaji itu di acara-acara yang belum tentu kebenarannya. Hadiahnya menggiurkan, uang sejumlah dua miliar, mobil, rumah serta barang elektronik. Koyal mengira hal itu nyata. Hingga berani memasang lotre. Taruhannya pun besar; keyakinannya sendiri. Mendobrak kenyataannya bahwa dia hanya pemulung. Dia tak berpikir bahwa butuh jutaan tahun seorang pemulung bisa memiliki uang berlimpah. Makanya dia ikut lotre supaya cepat banyak uang.

Hingga akhirnya, impian Koyal -menjadi kaya raya- terbawa dalam mimpinya saat tidur. Ketika di mimpi Koyal merelisasikan apa yang dia katakan sendiri, bahwa uang dapat membeli segalanya. Termasuk pada sebuah adegan dia mampu membeli jabatan Sultan Agung Keraton Yogyakarta. Kenyataanya pun sama, sebuah berita merilis bahwa untuk mendapat satu kursi DPR, dibutuhlan dana sebesar 25 miliar.

Seperti itulah kenyataan yang ada. Bahwa orang kecil hanya bisa bermimpi. Bukan salah mereka yang bermimpi. Tapi ketidakrasional bermimpi semacam membawa pada tindakan yang akhirnya tak terbalas jadi nyata.

Ada yang menarik dari obrolan jalanan, di sana tak serta-merta menghadirkan kepiluan, kekecewaan hidup atau bahkan kemarahan terhadap nasib. Jangan lupakan bahwa jalanan juga mengahdirkan pesta. Koyal mengajak setiap yang ada di panggung untuk menghindar dari momok kelesuan jalanan melalui lagu India Koi Mile Gaya.

Koyal menyulap dirinya menjadi Khan dan Retno menjelma sebagai Kajol. Bahkan Mae ikut serta jadi penggembira. Menjadi penari pengiring identitas sinema Bollywood. Susah, senang, sedih, gembira. Itulah jalanan. Ada ilmu hidup yang tak mungkin di dapat di bangku-bangku sekolah.

Diskusi
Pementasan berlanjut dalam sebuah sesi diskusi. Eka Cucu Zatmika, Pimpinan Produksi  mengungkapakan bahwa pentas lintas propinsi itu sebenarnya berdana minim. “Bagaimanapun juag pentas harus berlangsung. Pantang jika tak dilaksanakan,” ungkapnya saat diwawancarai.

Eka meyakini bahwa semangat membara harus ada pada diri setiap anggota Tetaer 28. Atas dasar itulah yang membawa Tetaer 28 selalu eksisi dalam pentas keliling bahkan hingga lintas propinsi. Kesungguhan itu terlihat dari laku setiap anggotanya, di mana dalam melaksanakan agenda tersebut mereka menjalankannya hanya dengan menggunakan dana minim. Lebih parah, ada beberapa dari anggota yang menaiki mobil pick up sekalian tempat pengangkut properti.

Pergelaran di Auditorium itu diakhiri diskusi yang berdurasi sekitar satu jam. Tapi setelah diskusi bukan berarti berhenti dan selesai. Anggota Teater SS selaku pihak kerjasama pelaksanaan pentas tersebut berkolaborasi dengan anggota Teater 28 masih harus membersihkan tempat. Saling menawarkan bahu, membantu menutup tirai hajat yang telah dibuka dan disuguhkan.

Kolaborasi itu semacam memberi pesan bahwa pementasan yang berakhir belum sebenarnya berakhir. Ada hal lain yang masih harus dipenuhi, berupa beres-beres tempat. Anggap saja jika naskah yang dilakonkan adalah realita, ternyata ada realita lain yang menunggu.

COMMENTS

Name

Advertorial Berita buku Cerpen dee lestari Desa Diskusi Editorial event Express Feature film gaya Gazebo HAM Headline Indepth new info infografis Inspirasi Jepret Kampus Komunitas Laporan Utama Musik Nuansa Opini PDF EXPRESS PDF NuansA Pers Liris pgsd pgsd tegal Pilrek pjd polling Populer Profil Puisi reggae Resensi Riset Sastra Sekaran Semarangan Seni Sinema slide Student Journalism supernova Teater Tesa Tradisional Travelista Unnes Wacana Wanita Wawancara
false
ltr
item
BP2M: Obrolan Jalanan Mampir ke Audit Unnes
Obrolan Jalanan Mampir ke Audit Unnes
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhIoh8joPGXFMUdydH50AtCgw-VaLACAixV7fIufEFoULexBebpW_bRrLmGfUHSH9_9htC8-_OyNosxLsD2uhNzDuRJb0O5xmk_mneS3JT4IpWk-74BvDFEuLtliMGV_0AvmbQlDTTk5ik/s1600/Teater+28.JPG
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhIoh8joPGXFMUdydH50AtCgw-VaLACAixV7fIufEFoULexBebpW_bRrLmGfUHSH9_9htC8-_OyNosxLsD2uhNzDuRJb0O5xmk_mneS3JT4IpWk-74BvDFEuLtliMGV_0AvmbQlDTTk5ik/s72-c/Teater+28.JPG
BP2M
https://bp2m-unnes.blogspot.com/2014/06/obrolan-jalanan-mampir-ke-audit-unnes.html
https://bp2m-unnes.blogspot.com/
http://bp2m-unnes.blogspot.com/
http://bp2m-unnes.blogspot.com/2014/06/obrolan-jalanan-mampir-ke-audit-unnes.html
true
2737708637901590966
UTF-8
Maaf Tulisan tidak di temukan, silahkan kembali ke halaman utama Lihat Semua Baca Selengkapnya Balas Cancel Balasan Hapus Oleh Beranda PAGES POSTS Perlihatkan Semua RECOMMENDED FOR YOU MENU ARSIP PENCARIAN Kata Kunci yang kamu cari tidak ditemukan. silahkan kembali ke halaman utama Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sept Okt Nov Des Sekarang 1 menit lalu $$1$$ Menit yang lalu 1 hour ago $$1$$ Jam yang lalu Yesterday $$1$$ Hari lalu $$1$$ Minggu lalu Lebih dari satu Minggu